Tahun 2014 adalah tahunnya
politik, atau mungkin sering dikatakan pesta demokrasi, karena tepatnya pada 9
APRIL nanti akan diadakan PEMILU. Semua sibuk dengan kegiatan-kegiatan
perpolitikan, Kenapa semuanya? Karena baik pelakunya yang sibuk dengan agenda-agenda
kampanye misalnya untuk mencari dukungan dan suara banyak pada hari H-nya, dan
beberapa yang tidak menyadi pelaku namun ikut menjadi pengamat politik,
mengkritisi, mengkomentari serta ada juga yang menjadi simpatisan. Jadi mau
tidak mau, atau tepatnya tanpa disadari semua ikut berperan dalam tahun politik
2014 ini.
Berbicara tentang perpolitikan, dewasa ini kita tidak lagi diherankan
dengan banyaknya wanita yang sudah menduduki kursi dewan ‘di sana’. Itu terbukti
bahwasanya wanita sudah mulai mendapatkan pengakuan bahwa wanita juga memiliki
peran penting dan hak dalam dunia perpolitikan. Dapat kita lihat baliho-baliho
yang terpajang di jalan-jalan bahwa di tahun politik 2014 ini juga semakin
banyak partisipan dari kaum hawa, dengan background yang bermacam-macam. Mulai dari
yang berprofesi sebagai camat, guru, dosen, pegawai, bahkan ada juga yang hanya
berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dengan semakin meningkatnya prosentase
pencalonan dari wanita sebagai anggota legislative itu menunjukkan bahwa mereka
mulai percaya diri untuk ikut andil dalam penentu kebijakan-kebijakan di Negara
ini, khususnya di setiap daera-daerah asal. Keberanian yang timbul mungkin
karena berbagai alasan yang bisa menjadi visi mereka saat mencalonkan menjadi
anggota legislatif. Tentunya menjadi sangat menarik jika wanita saja sudah
berani untuk mengambil perannya dalam dunia perpolitikan yang akan bersaing
dengan sesama wanita bahkan dengan calon legislative laki-laki.
Pagi tadi [Sabtu, 15/3] saya mengikuti talkshow yang mengangkat tema “Peran
Wanita dalam Pemilu 2014”, yaa walaupun kedatangan saya sudah cukup, bahkan
sangat terlambat 1 ½ jam setelah acara dimulai, itu karena saya lupa waktu
acaranya kapan, akhirnya dengan sangat malu sekali saya menyusul menjadi
peserta paling akhir yang datang tadi. Biasanya kalau sudah terlambat, saya
lebih baik tidak datang, daripada malu, tapi ini karena saya sangat tertarik
dan benar-benar ingin tahu isi talkshow’nya saya paksakan saja untuk masuk, ahh
untung masih ada beberapa kursi kosong di belakang. Akhirnya saya mengikuti
talkshow di menit-menit terakhir, paling tidak saya mendapatkan 1 ½ jam
sebelum acara selesai.
Yahh, lupakan cerita keterlambatan saya tadi.
Menarik ketika wanita memiliki peran dalam berpolitik,
bahwasanya memang wanita juga berhak untuk peran politik. Sejak pada jaman Nabi
Muhammad SAW, wanita juga sudah diberikan hak untuk ikut serta dalam
pengambilan keputusan-keputusan pada beberapa musyawarah, dan sebagainya.
Islam tidak pernah melarang perempuan
untuk aktif dalam bidang politik. Karena itu, pada masa Nabi Saw. kaum
perempuan juga ikut terlibat dalam berbagai aktivitas publik atau politik. Di
antara aktivitas politik yang dilakukan perempuan pada masa Nabi Saw. seperti yang diceritakan dalam hadis
di antaranya adalah: 1) ikut berhijrah ke Habasyah bersama Nabi dan kaum
laki-laki, 2) ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi dan kaum laki-laki, 3) berbaiat
dengan Nabi Saw. eperti yang ditegaskan
dalam QS. Al Mumtahanah (60): 12, 4) ikut peduli terhadap masa depan politik negara
yang menganut system kekhalifahan, dan 5) ikut menghadapi kezaliman salah
seorang penguasa (Abu Syuqqah, 1997, II: 66-68). (ngutip dari jurnal Keterlibatan Perempuan
Dalam Bidang Politik Pada Masa Nabi Muhammad Saw. Dan Masa Khulafaur Rasyidin (Suatu Kajian
Historis) oleh :
Marzuki, M.Ag. sumber : uny.ac.id)
Pagi tadi, dalam acara talkshow juga dihadirkan 3 figur wanita yang pada
pemilu 2014 mencalonkan dirinya sebagai calon legislative yang berasal dari
partai yang berbeda-beda. –dari background tertulis dari partai Demokrat, PDIP
dan PKS- saya lupa nama-namanya siapa saja, yang saya ingat mereka memiliki
background profesi yang berbeda-beda, ada yang menjadi istri seorang Camat, ada
juga yang menjadi aktivis Posyandu. Didepan sana mereka saling berargumen, ada
kata-kata menarik yang saya kutip dari apa yang disampaikan salah satu caleg,
bahwa
“Jika
ingin merubah –memperbaiki- maka harus berkuasa”
Kalimat tersebut jika dijabarkan mungkin akan memiliki arti yang banyak,
dan bisa saja setiap orang yang mendengarkan/membacanya bisa menafsirkan yang
berbeda-beda, begitupun saya. Dari kalimat tersebut, saya mengartikan bahwa,
kenapa mereka dengan percaya diri ingin mencalonkan diri sebagai anggota legislative
adalah bahwa mereka menemukan adanya hal-hal yang tidak baik, atau ada hal-hal yang
harus diperbaiki, harus di‘dandani’, harus dibenahi. Namun mereka sadar,
bahwasanya jika melakukan sesuatu/memperbaiki sesuatu sendiri, atau atas nama
pribadi, atau dengan apa yang dimiliki sekarang, maka perbaikan tidak akan bisa
terwujud atau terwujud namun tidak menyeluruh. Sehingga timbul kesadaran dan
timbul niatan untuk memeiliki wewenang, memiliki kuasa untuk dapat menciptakan
suatu kebijakan atau undang-undang yang nantinya akan mampu merubah/memperbaiki
keadaan yang tadinya belum baik/cacat/buruk menjadi lebih baik, dengan tujuan
untuk memperbaiki seluruh sistem secara sempurna. Itu yang saya tafsirkan. Sehingga
jika dijabarkan menyeluruh, mereka ingin bisa ikut berperan dalam perbaikan
dengan wewenang yang mereka miliki, itulah kenapa mereka ikut mencalonkan diri
sebagai anggota legislative.
Ada
hal yang menarik lagi ketika mereka berbicara tentang mahasiswa yang
berpolitik. Salah satu dari ketiga calon legislative didepan memberikan jawaban
yang bembuat saya ‘manggut-manggut’ tanda setuju/sependapat dengan pemikiran
beliau. Bahwasanya, ketika mahasiswa memiliki cenderung ke suatu partai, maka
itulah hak mereka. Seperti yang dikatakan beliau, “se-netral apapun mahasiswa,
tetap punya pilihan” dan saya sangat setuju itu. Namun, diteruskan lagi bahwa
mahasiswa juga harus memiliki control, jika mereka memiliki kecenderungan
politik pada suatu partai, maka mereka juga harus memiliki control agar hal
tersebut tidak dibawanya ke dalam kampus, apalagi ketika di dalam suatu
organisasi kampus mereka membawa nama partai tersebut, maka hal tersebut sangat
tidak diindahkan. Karena kampus adalah area bebas politik praktis. Itu yang
saya tahu di kampus unnes –tentunya-. Jadi, kesimpulannya
mahasiswa boleh memiliki warnanya sendiri, namun mahasiswa juga harus bisa
mengkontrol diri untuk tidak melakukan kegiatan atau mencampur adukan politik
dengan kegiatan yang ada di dalam kamus.
Seperti yang dikatakan salah satu caleg bahwa, “seperti
atom netral yang lebih cenderung ke atom positif”. mahasiswa juga. ^_^
-manggut-manggut lagi-. Hehe.
selanjutnya ketika mereka ditanya pendapatnya tentang
politik.
“Politik itu, so fun so good”
“Politik itu, indah”
Yang satu, saya lupa menjawab apa…. Hehe….
Yang intinya, bahwa siapapun yang ‘maju’ atau
menerjunkan dirinya dalam dunia perpolitikan, mereka juga sudah menyiapkan
diri, untuk mencintai politik, untuk mengharumkan politik, untuk mengabarkan
bahwa politik itu baik, politik itu indah, politik itu tidak seburuk apa yang
media beritakan, tidak seburuk apa yang masyarakat pahami. Jadi mereka-mereka
yang terjun dalam dunia politik, pertamanya harus meyakinkan diri sendiri dulu
bahwa berpolitik itu baik. Dan salah satu cara penyelesaian masalah terutama
masalah yang mencakup umat/warga Negara/rakyat, itu adalah berpolitik,
musyawarah. Tentunya politik yang baik adalah politik yang dicontohkan oleh
Nabi Muhammad SAW.
Itu tadi cerita saya ikut talkshow yang
diselenggarakan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), tentang Peran
Wanita dalam Pemilu 2014, semoga siapa saja yang akan menduduki kursi-kursi
dewan, adalah orang-orang yang amanat, yang benar-benar ingin memperbaiki
kerusakan, ketidak sempurnaan, dan kekurangan yang ada di Indonesia ini, dan
tentunya kita sebagai warga Negara yang baik juga tidak harus tinggal diam
menunggu kebijakan yang turun, kita juga bisa bersuara, kita bisa berpendapat,
kita bisa ‘urun’ apa yang kita mampu, karena mereka-mereka yang duduk di sana
tidak melakukan untuk diri mereka sendiri, mereka melakukan untuk kita, jadi
suarakan aspirasi kita. Apa yang bisa kita lakukan? bekerja sama dan juga
mengawal pemerintahan yang baik tentunya.
“Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum perempuannya.
Karena perempuan adalah guru dunia.
Dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya.” (Hasan Al Banna)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar