Sabtu, 15 Maret 2014

[ada] peran wanita dalam pemilu 2014

      Tahun 2014 adalah tahunnya politik, atau mungkin sering dikatakan pesta demokrasi, karena tepatnya pada 9 APRIL nanti akan diadakan PEMILU. Semua sibuk dengan kegiatan-kegiatan perpolitikan, Kenapa semuanya? Karena baik pelakunya yang sibuk dengan agenda-agenda kampanye misalnya untuk mencari dukungan dan suara banyak pada hari H-nya, dan beberapa yang tidak menyadi pelaku namun ikut menjadi pengamat politik, mengkritisi, mengkomentari serta ada juga yang menjadi simpatisan. Jadi mau tidak mau, atau tepatnya tanpa disadari semua ikut berperan dalam tahun politik 2014 ini.
Berbicara tentang perpolitikan, dewasa ini kita tidak lagi diherankan dengan banyaknya wanita yang sudah menduduki kursi dewan ‘di sana’. Itu terbukti bahwasanya wanita sudah mulai mendapatkan pengakuan bahwa wanita juga memiliki peran penting dan hak dalam dunia perpolitikan. Dapat kita lihat baliho-baliho yang terpajang di jalan-jalan bahwa di tahun politik 2014 ini juga semakin banyak partisipan dari kaum hawa, dengan background yang bermacam-macam. Mulai dari yang berprofesi sebagai camat, guru, dosen, pegawai, bahkan ada juga yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dengan semakin meningkatnya prosentase pencalonan dari wanita sebagai anggota legislative itu menunjukkan bahwa mereka mulai percaya diri untuk ikut andil dalam penentu kebijakan-kebijakan di Negara ini, khususnya di setiap daera-daerah asal. Keberanian yang timbul mungkin karena berbagai alasan yang bisa menjadi visi mereka saat mencalonkan menjadi anggota legislatif. Tentunya menjadi sangat menarik jika wanita saja sudah berani untuk mengambil perannya dalam dunia perpolitikan yang akan bersaing dengan sesama wanita bahkan dengan calon legislative laki-laki.
Pagi tadi [Sabtu, 15/3] saya mengikuti talkshow yang mengangkat tema “Peran Wanita dalam Pemilu 2014”, yaa walaupun kedatangan saya sudah cukup, bahkan sangat terlambat 1 ½ jam setelah acara dimulai, itu karena saya lupa waktu acaranya kapan, akhirnya dengan sangat malu sekali saya menyusul menjadi peserta paling akhir yang datang tadi. Biasanya kalau sudah terlambat, saya lebih baik tidak datang, daripada malu, tapi ini karena saya sangat tertarik dan benar-benar ingin tahu isi talkshow’nya saya paksakan saja untuk masuk, ahh untung masih ada beberapa kursi kosong di belakang. Akhirnya saya mengikuti talkshow di menit-menit terakhir, paling tidak saya mendapatkan 1 ½ jam sebelum acara selesai.
Yahh, lupakan cerita keterlambatan saya tadi.
Menarik ketika wanita memiliki peran dalam berpolitik, bahwasanya memang wanita juga berhak untuk peran politik. Sejak pada jaman Nabi Muhammad SAW, wanita juga sudah diberikan hak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan-keputusan pada beberapa musyawarah, dan sebagainya.

Islam tidak pernah melarang perempuan untuk aktif dalam bidang politik. Karena itu, pada masa Nabi Saw. kaum perempuan juga ikut terlibat dalam berbagai aktivitas publik atau politik. Di antara aktivitas politik yang dilakukan perempuan pada masa  Nabi Saw. seperti yang diceritakan dalam hadis di antaranya adalah: 1) ikut berhijrah ke Habasyah bersama Nabi dan kaum laki-laki, 2) ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi dan kaum laki-laki, 3) berbaiat dengan Nabi Saw.  eperti yang ditegaskan dalam QS. Al Mumtahanah (60): 12, 4) ikut peduli terhadap masa depan politik negara yang menganut system kekhalifahan, dan 5) ikut menghadapi kezaliman salah seorang penguasa (Abu Syuqqah, 1997, II: 66-68). (ngutip dari jurnal Keterlibatan Perempuan Dalam Bidang Politik Pada Masa Nabi Muhammad Saw. Dan  Masa Khulafaur Rasyidin (Suatu Kajian Historis) oleh : Marzuki, M.Ag. sumber : uny.ac.id)
Pagi tadi, dalam acara talkshow juga dihadirkan 3 figur wanita yang pada pemilu 2014 mencalonkan dirinya sebagai calon legislative yang berasal dari partai yang berbeda-beda. –dari background tertulis dari partai Demokrat, PDIP dan PKS- saya lupa nama-namanya siapa saja, yang saya ingat mereka memiliki background profesi yang berbeda-beda, ada yang menjadi istri seorang Camat, ada juga yang menjadi aktivis Posyandu. Didepan sana mereka saling berargumen, ada kata-kata menarik yang saya kutip dari apa yang disampaikan salah satu caleg, bahwa
“Jika ingin merubah –memperbaiki- maka harus berkuasa”
Kalimat tersebut jika dijabarkan mungkin akan memiliki arti yang banyak, dan bisa saja setiap orang yang mendengarkan/membacanya bisa menafsirkan yang berbeda-beda, begitupun saya. Dari kalimat tersebut, saya mengartikan bahwa, kenapa mereka dengan percaya diri ingin mencalonkan diri sebagai anggota legislative adalah bahwa mereka menemukan adanya hal-hal yang tidak baik, atau ada hal-hal yang harus diperbaiki, harus di‘dandani’, harus dibenahi. Namun mereka sadar, bahwasanya jika melakukan sesuatu/memperbaiki sesuatu sendiri, atau atas nama pribadi, atau dengan apa yang dimiliki sekarang, maka perbaikan tidak akan bisa terwujud atau terwujud namun tidak menyeluruh. Sehingga timbul kesadaran dan timbul niatan untuk memeiliki wewenang, memiliki kuasa untuk dapat menciptakan suatu kebijakan atau undang-undang yang nantinya akan mampu merubah/memperbaiki keadaan yang tadinya belum baik/cacat/buruk menjadi lebih baik, dengan tujuan untuk memperbaiki seluruh sistem secara sempurna. Itu yang saya tafsirkan. Sehingga jika dijabarkan menyeluruh, mereka ingin bisa ikut berperan dalam perbaikan dengan wewenang yang mereka miliki, itulah kenapa mereka ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislative.
Ada hal yang menarik lagi ketika mereka berbicara tentang mahasiswa yang berpolitik. Salah satu dari ketiga calon legislative didepan memberikan jawaban yang bembuat saya ‘manggut-manggut’ tanda setuju/sependapat dengan pemikiran beliau. Bahwasanya, ketika mahasiswa memiliki cenderung ke suatu partai, maka itulah hak mereka. Seperti yang dikatakan beliau, “se-netral apapun mahasiswa, tetap punya pilihan” dan saya sangat setuju itu. Namun, diteruskan lagi bahwa mahasiswa juga harus memiliki control, jika mereka memiliki kecenderungan politik pada suatu partai, maka mereka juga harus memiliki control agar hal tersebut tidak dibawanya ke dalam kampus, apalagi ketika di dalam suatu organisasi kampus mereka membawa nama partai tersebut, maka hal tersebut sangat tidak diindahkan. Karena kampus adalah area bebas politik praktis. Itu yang saya tahu di kampus unnes –tentunya-. Jadi, kesimpulannya mahasiswa boleh memiliki warnanya sendiri, namun mahasiswa juga harus bisa mengkontrol diri untuk tidak melakukan kegiatan atau mencampur adukan politik dengan kegiatan yang ada di dalam kamus.
Seperti yang dikatakan salah satu caleg bahwa, “seperti atom netral yang lebih cenderung ke atom positif”. mahasiswa juga. ^_^ -manggut-manggut lagi-. Hehe.
selanjutnya ketika mereka ditanya pendapatnya tentang politik.
“Politik itu, so fun so good”
“Politik itu, indah”
Yang satu, saya lupa menjawab apa…. Hehe….
Yang intinya, bahwa siapapun yang ‘maju’ atau menerjunkan dirinya dalam dunia perpolitikan, mereka juga sudah menyiapkan diri, untuk mencintai politik, untuk mengharumkan politik, untuk mengabarkan bahwa politik itu baik, politik itu indah, politik itu tidak seburuk apa yang media beritakan, tidak seburuk apa yang masyarakat pahami. Jadi mereka-mereka yang terjun dalam dunia politik, pertamanya harus meyakinkan diri sendiri dulu bahwa berpolitik itu baik. Dan salah satu cara penyelesaian masalah terutama masalah yang mencakup umat/warga Negara/rakyat, itu adalah berpolitik, musyawarah. Tentunya politik yang baik adalah politik yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Itu tadi cerita saya ikut talkshow yang diselenggarakan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), tentang Peran Wanita dalam Pemilu 2014, semoga siapa saja yang akan menduduki kursi-kursi dewan, adalah orang-orang yang amanat, yang benar-benar ingin memperbaiki kerusakan, ketidak sempurnaan, dan kekurangan yang ada di Indonesia ini, dan tentunya kita sebagai warga Negara yang baik juga tidak harus tinggal diam menunggu kebijakan yang turun, kita juga bisa bersuara, kita bisa berpendapat, kita bisa ‘urun’ apa yang kita mampu, karena mereka-mereka yang duduk di sana tidak melakukan untuk diri mereka sendiri, mereka melakukan untuk kita, jadi suarakan aspirasi kita. Apa yang bisa kita lakukan? bekerja sama dan juga mengawal pemerintahan yang baik tentunya. 

“Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum perempuannya.
 Karena perempuan adalah guru dunia. 
Dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya. (Hasan Al Banna)
 

Tidak ada komentar: