Rabu, 06 Juni 2012

Mahasiswa 'eksis'

bedanya,
dulu eksis mengkritisi pemerintahan n negara'nya,,,
sekarang eksis di acara" tv,,,

baru saja saya nulis itu,
ehh pas browsing nyari-nyari artikel tentang mahasiswa eksis di tv, nemu artikel yang benar-benar 'nonjok' banget, sampai-sampai saya pun yang berstatus mahasiswa ini serasa ikut meng 'iya'kan apa yang tertulis di dalamnya.




Sudah lama saya tidak nonton televisi khususnya acara-acara dialog. Malam ini tadi saya sengaja mencoba untuk menikmati acara dialog di beberapa TV. Yang satu membahas tentang anggaran yang pro-lingkungan, yang satunya lagi dialog model talkshow yang disetting banyak humor oleh pelawak Tukul. Topik pertama memang serius, mendatangkan para pakar dan pembuat kebijakan. Sementara yang satu lagi topiknya tentang selebritas, berat badan, dan entertainment. Gaya, cara menjawab, dan konten jelas beda kalau membandingkan dua acara itu.
Tapi yang membuat saya terkesiap adalah ternyata audiensnya sama yaitu para mahasiswa, full dengan jaket almamater masing-masing. Tiba-tiba saya teringat jadul tahun 1998-an ketika mahasiswa berpeluh keringat, tampil berorasi, dan berpikir serius untuk mendorong reformasi. Mahasiswa yang saya saksikan tadi penampilannya jauh beda dengan mahasiswa jadul. Kalau yang jadul berpanas-panas dan cakap berorasi baru lantas mendapatkan aplaus, yang sekarang ini berdingin-dingin di AC studio TV dan cakap memberi aplaus untuk pembicara lain.
Saya lihat mahasiswa sekarang ini lebih banyak antusias untuk bisa menampilkan dirinya secara bergerombol dan butuh eksis dengan cara mereka sendiri. Hampir semua acara dialog, talkshow, entertainment di TV-TV pasti latar belakangnya adalah mahasiswa. Mereka tampak kompak bertepuk tangan, manggut-manggut memahami isi yang dibicarakan, dan sesekali melontarkan pertanyaan kepada narasumber.
Sangat beda dengan mahasiswa jaman dulu. Yang dulu terlihat punya peran sentral untuk menggerakkan perubahan seperti reformasi dan bisa mendominasi tampil di media sebagai narasumber. Berkebalikan dengan yang sekarang ini jamak, mahasiswa kontemporer lebih banyak jadi pajangan dan sekedar dipasang untuk mengatur irama aplaus tanpa memberi kontribusi yang berpengaruh dalam wacana yang muncul di acara-acara TV itu.
Mungkin mahasiswa itu sekarang merasa tidak penting lagi mengawal reformasi atau bergelut dengan politik. Apa yang mereka perjuangkan, mereka pikir, hanya dibajak oleh para predator politik seperti Nazaruddin, Aburizal Bakrie, Miranda Gultom, dan sejenisnya, sementara mahasiswa sendiri tersingkir dari orbit politik yang mereka gagas. Akhirnya, daripada tersingkir, lebih baik tampil eksis dalam caranya sendiri di media-media siaran tadi itu. Posisi ini menjadi serba salah bagi mahasiswa.
Memang pasti banyak juga jumlah mahasiswa yang lebih bermutu yang memenangkan berbagai macam kompetisi internasional, moot court, debat bahasa asing, juara olimpiade robotik, dan torehan prestasi lainnya. Mereka yang tergabung dalam PPI di berbagai negara juga bisa jadi contoh bahwa mereka pun walau jauh dari negaranya juga tetap peduli dengan nasib rakyat yang ditinggalkannya untuk belajar. Cerita hebat dari para mahasiswa yang seperti di atas itu perlu diangkat lebih banyak sehingga mereka pun juga menjadi “pajangan” yang membanggakan Indonesia.
Wajah mahasiswa kita memang beranekaragam.
itu dia isi artikel yang saya kuti dari sumber :
Mahasiswa Cuma Pajangan

dari judulnya pun sudah tersindir habis-habisan, ternyata dilihat dari kenyataannya memang kenyataannya seperti itu, walaupun tidak semua seperti itu tentunya, tapi bisa kita pastikan, kalau teman-teman membaca tulisan di atas harusnya bisa menyadari diri sendiri dan bisa bercermin dari cerita masa lau tentunya!!!
apa yang sudah kita lakukan sekarang, sebagai seorang 'mahasiswa' ?
ambil saja satu figur mahasiswa pada waktu itu, Soe Hok Gie, sosok pemberani yang dengan keberaniannya dia mengkritisi pemerintahan saat itu, yang hari-harinya selalu diliputi rasa kegelisahan karena dia merasa tak puas oleh pemerintahan saat itu, sampai dia tidak takut lagi seberapa banyak musuhnya saat itu ketika tulisan-tulisan kritik tajam dimuat di media masa, ketika dia bersama kawan-kawannya turun kejalan melakukan orasi demi menyampaikan aspirasinya kepada pemerintahan.
 
wahh memang benar, ternyata yang dulu sama yang sekarang jelas JAUH BERBEDA !!!
saya pun sebagai seorang 'mahasiswa' merasa tertonjok dengan fenomena saat ini, dimana derap langkah mahasiswa, dimana care'nya mahasiswa, yang 'katanya' sebagai ujung tombak bangsa, sebagai penggerak, sebagai pembawa perubahan, yang katanya dulu paling dikatuti gerakanya oleh para pejabat yang duduk di kursi sana???

masih ada tanda tanya besar,
to be continue ...

Tidak ada komentar: